Tuesday, November 2, 2010

Aprilia RSV 1000R 2011

The The benefits are obvious in terms of less physical and mental stress, faster and safer motorcycling and the ability to remain fully concentrated for far longer, factors that contribute to success on the racetrack and safety on the road. Because riders feel so instantly confident on an Aprilia RSV 1000 R, they really can ride at the limits of their abilities and stay totally relaxed too. But what counts the most is the fact that the Aprilia RSV 1000 R is still the bike to beat when it comes to ease of riding.

The Aprilia RSV 1000 R is determined to maintain its supremacy as the best sports twin money can buy, for its advanced technology and for its amazing performance. It has served as a valuable test bench for the latest technical solutions now appearing on Aprilia production bikes. Endurance racing has provided more than just an unforgettable experience. Legendary races like the Le Mans 24 hours and the massacring Bol d’Or 24 hours have shown exactly how effective the twin cylinder Aprilia RSV 1000 R is on the racetrack , and how totally reliable it is too. The Aprilia RSV 1000 R has shown its competitive edge in world endurance racing, where it is the only production twin able to compete on even terms with the best four cylinder machines in the world, as demonstrated by the excellent results achieved.

Competition may come and go, but the Aprilia RSV 1000 R remains the unquestioned top dog among supersport motorcycles for its amazing handling on road and racetrack.

Aprilia RSV 1000R Factory 2011

The Aprilia RSV 1000 R Factory was the fastest bike around ten out of twelve curves and the fastest in top speed at the end of six out of twelve straights. The Aprilia RSV 1000 R Factory did not just win, it dominated the final of the 2006 Master Bike, thanks to amazingly safe braking, rapid yet smooth and precise control when leaning into curves, excellent rear wheel feel under acceleration and, last but not least, a final drive gear ratio specially calculated for effective racing.
This year's Master Bike has scientifically and conclusively demonstrated that the Aprilia RSV 1000 R Factory is the most efficient winning machine on the racetrack. It is also the first non-Japanese bike to dominate the final points table, and the most impressive V twin in the competition.
The RSV 1000 R Factory is the best twin cylinder supersport that money can buy. Its updated V60 Magnesium engine and new chassis combine with special, ultra-light materials and the best components in the world to ensure absolute excellence on the track. The Aprilia RSV 1000 R Factory is the utmost expression of Aprilia's technological and sporting heritage.
Here is a bike designed for those who demand maximum performance on the track. Yet, like all previous RSV 1000 R models, the new Factory still sells at a surprisingly low price. Just like its predecessors, the new Factory brings you the best motorcycle technology in the world at a rock bottom price. Nowhere else will you find this level of equipment for such a low outlay.

The Factory is an RSV 1000 R that has been pushed beyond the excellence barrier, cleverly modified and equipped with only superlative components.

Modif 2011 trend Yamaha RX King



This Yamaha RX King could be rather old, but we can't see it's old any more after some modification and airbrushing on it. The body itself is still origin, the owner of the motorcycle, M Yunus - Bekasi, only give it full body airbrush so that it became center of people attention.

Engine matches circadian by Alm. TACHI, Abounding Chrome by Mahameru, spiral L Abounding Arena Posh, Master & Nissin rear anchor corrupt rear anchor POSH.elq Yoko, Battlax tires, disc PSM, chrome tube Shock palababi chrome, bolts L arena Posh & anchor corrupt KITACO. After eaten isue 2 Aloof casual through banned roads, the agreement now allegorical arise afresh with new faces. So .... 2 not eaten accidentally isue will not be in assembly so that the resale this value dive acutely to the everyman level, motor jambret alone brainstorm that this usually has a resale amount of abiding dikisaran 8 - 10 actor can now be endemic by abridged of 3 - 6 actor aloof for the adolescent year 2000 - 2005.
The Legend now arise to face a added sweet, affable liongkungan (pass the discharge analysis EURO 2). Finally lounching pengemar biased RX-KING agog afresh because the motor is abounding acceleration and acceptable dikendarai. Catalityc Converter independent in the bankrupt New King did not abate the achievement of the King.

Bohlam Lampu Belakang suzuki spin

 
AWAS CAHAYA TERBALIK
5468bohlam-adib-1.jpgPernah dibahas soal bohlam headlamp variasi salah posisi kaki. Sehingga harus diakali dengan memindahkan posisi kabel di terminal soket lampu agar sorotan lampu dekat-jauh tidak terbalik.

Tapi, belum lama ini hal serupa terulang kembali. Cuma yang terbalik justru lampu belakang dengan rem. Sinar yang keluar lebih terang lampu belakang daripada lampu rem saat tuas rem ditekan.

“Kalau siang atau lampu depan OFF, lampu rem masih kelihat meski cahaya-nya kecil. Begitu malam, lampu belakang lebih terang hingga lampu rem tak nampak,” .5469bohlam-adib-2.jpg
kalau gejala itu terjadi saat ganti bohlam belakang imitasi. Kebetulan penggantian dilakukan berikut cek terminal kabel di dalam batok lampu. Kesalahan disebabkan kabel terbalik.

Untuk memastikan ada kabel tertukar, metode cek dilakukan lebih dulu dengan cara membongkar batok lampu. Plus lepas cover bodi belakang agar posisi warna kabel soket jelas.

“Ketika diselidiki pakai avometer, terbukti jaringan kabel dan soket nggak masalah,” 
saat beli bohlam apalagi KW2 pastikan dulu apakah posisi kaki bohlam sudah benar. Juga lihat posisi kedua tangkai kecil pengunci bohlam di dalam fitting lampu belakang.

“Pertama, lihat posisi dua tangkai pengunci yang ditandai melihat jarak tinggi-rendahnya. Kemudian dari situ lihat kaki terminal searah kawat di dalam bohlam. Kalau tidak melenceng, saat dipasang pasti cahaya gak tertukar, kecuali beli part asli,”

Elektrik Starter ON Terus

relay starter suzuki
5701starter-on-terus-adib-1.jpgPasti panik kalau dinamo starter mendadak ON terus. Padahal kunci kontak sudah di posisi OFF, tapi komponen pemutar mesin itu masih tetap aja berputar.

“Gejala ini tidak lain ulah dari bendik starter atau peranti penghubung dan pemutus arus ngambek. Alhasil, setrum dari aki yang di by pass ke motor starter tidak mau diputus. Khawatir terjadi korslet atau kebakaran,”karim
bendik ngadat kerap dipicu batang penghubung setrum otomatis di dalam bendik mulai berka–rat. Paling parah, lilitan gulungan kawat ada yang korslet atau lemah. Akibatnya batang penghubung sulit balik dan setrum dari aki sulit dibendung.
5702starter-on-terus-adib-2.jpg
Langkah awal mengantisipasinya dengan memutus setrum langsung dari aki, bukan dari kunci kontak. Sebab tombol starter hanya berfungsi sebagai pemicunya. “Bisa dengan melepas kabel setrum dari baut di terminal positif-negatif aki, atau melepas baut masa yang ada di bodi motor starter. Pilih yang ruangnya lebih lega dan mudah dijangkau," 
Antispasi lain bersihkan batang penghubung yang mulai karat atau kotor. Tapi pekerjaan ini hanya bisa diker-jakan mekanik ahli kelistrikan. Sebab yang diperbaiki bukan cuma part mekanisnya, tapi juga kelistrikannya.“Kalau mau aman mending beli bendik baru,” 
( karim )

:. Karet Kopling Skubek suzuki


Ayo Melacak Sumber Bunyi!

5559dumper-gt-(1).jpgPernah alami suara berisik dari bagian kopling di CVT skubek sobat? Coba periksa dengan teliti. Sebab, gejala ini bisa diakibatkan dari karet dumper kopling yang haus.

Iya, karet kopling itu lho. Part yang berfungsi untuk menahan sepatu atau kampas kopling sentrifugal. “Kopling ini ada tiga sepatu. Misalnya di Yamaha Mio. Jika karet ini aus, bisa menyebabkan timbul suara tidak nyaman,” 

Sejatinya, kopling sentrifugal ini akan membuka untuk menekan mangkuk kopling seiring bukaan gas. Gitu juga ketika rpm rendah, maka kopling akan kembali ke posisi semula.5560dumper-gt--(2).jpg

Begitunya suara yang disebut di atas tadi timbul ketika sepatu kopling kembali ke posisi asal. Kembalinya, tak lagi diredam karet yang kondisinya aus. Akhirnya, sepatu itu berbenturan dengan sepatu kopling lainnya.

Gejala lain yang ditimbulkan, ketika berjalan. Laju motor diawal berjalan, se-perti tersendat sendat. Makin terasa ketika sering melakukan buka-tutup gas.

“Kondisi ini disebabkan bukaan atau tekanan kampas kopling ke mangkuk kopling tidak rata,” Jadi, siapa duluaan yang menekan mangkuk, pastinya yang punya karet masih tebal dong.

Ganti part ini, sobat kudu siapkan uang Rp 235 ribu untuk satu set pe-rangkat kopling. Atau, bisa ganti karet aja harga Rp 5.000 satu karetnya.

SUZUKI SKYDRIVE DYNAMATIC 125


Antara Spin dan Skywave

1804skydrive-gt-01.jpgJika sobat jeli ketika datang ke Jakarta Motorcycle Show 2008 lalu, Suzuki Skydrive Dynamatic 125 sudah diperkenalkan di stan Suzuki. Tapi, saat itu kenalannya agak malu-malu alias nggak terang-terangan. Macam jinak-jinak merpati, Skydrive kala itu dikamuflase dengan kelir krom di antara deretan motor konsep lain.

Profil Skydrive tidak diulas sendirian, tapi dipaparkan di antara ‘kakak-kakaknya’ yang sudah lebih dulu hadir.1805skydrive-gt-02.jpg Yap, Suzuki Spin 125 dan Suzuki Skywave 125. Skubek yang bakal dilaunching akhir Maret atau awal April ini, melengkapi jajaran skubek Suzuki di semua segmen. Low-end, middle dan high-end.

Harga yang bakal dipatok untuk Skydrive, sekitar Rp 13 jutaan. Artinya nilai jual itu di antara Spin dan Skywave kan? Dengan kondisi ini, gimana dengan kelebihan yang ditawarkan. Untuk itu Skydrive dipertemukan langsung dengan kedua saudaranya. Gimana performa Skydrive di antara ‘mereka’. Mantapkan?

LEBIH MAKSIMAL DI PUTARAN ATAS

1806skydrive-gt-03.jpgPenyemplak Spin 125 atau Skywave 125 pasti sudah tahu. Akselarasi kedua skubek ini tak diragukan. Meskipun untuk dapat tenaga putaran atas, Spin 125 sedikit pontang-panting dibanding Skywave 125 yang lebih sip melesat cepat.

Nah, Skydrive yang punya dimensi mirip Spin 125, rasanya tidak akan alami kendala seperti itu. Sebab meski sama-sama didukung volume silinder 124 cc (hasil dari bore 53,5 mm x stroke 55,2 mm), nyatanya engine Skydrive disuport komponen pendukung yang sedikit mengalami perubahan.

Perbedaan itu dirasakan saat terima tawaran PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) untuk riding impresion di pabrik Suzuki Cakung, Bekasi Timur. Terbukti akselarasi tetap galak dan tak kekurangan power di gasingan atas. (Jelasnya baca ulasan riding impresion).

Ketika ditelusuri lebih dalam, benar aja tuh! Ternyata perubahan paling mencolok tampak pada boks filter dan silincer knalpot. Kedua part itu, di Skydrive memiliki dimensi lebih besar dari Spin 125 atau Skywave 125.

Terlihat dari saringan udara Skydrive. Bukan menghadap ke samping kanan macam Spin 125 atau kiri macam Skywave 125, tapi ke atas cuy! Sementara, silencer knalpotnya lebih besar dibanding keduanya.

Artinya perubahan yang terjadi di Skydrive diyakini melebihi kemampuan yang tak dimiliki Spin 125. Khususnya untuk memaksimalkan tenaga putaran atas. Belum lagi perubahan yang terjadi di setingan karburator, walau pabrikan mengaku kalau setingan tetap mengacu pada buku manual.

“Mestinya sih memang ada perubahan setingan komponen di karburator Mikuni BS26. Namun untuk saat ini masih mengacu pada buku panduan Skydrive yang tetap pakai seting Spin 125,” ungkap Firdaus, staf Suzuki Training 2W PT SIS di Kawasan Industri Pulogadung.

Komponen lain yang diklaim mampu meningkatkan performa Skydrive adalah proses pendinginan mesin dan rumah CVT yang lebih optimal. Terlihat pada penerapan 3 lubang pendinginan di rumah CVT dan perubahan bentuk sirip cover kipas pendingin mesin.

“Dengan penambahan dan perubahan komponen ini, pendinginan di mesin dan rumah CVT bisa optimal. Motor tak gampang kepanasan yang jadi penyebab utama turunnya power,” kata Firdaus sambil menujuk karbu Skydrive pakai autochoke. Sip!1807skydrive-gt-04.jpg

PERPADUAN SPIN DAN SKYWAVE

Desain Skydrive Dynamatic 125 ini, menampung kelebihan desain dan fitur yang ada pada Spin 125 dan Skywave 125. Istilah kata, Skydrive ada di tengah. Gitchu, deh! Sejumlah keunggulan dari keduanya juga diambil.

Coba diurut dari dimensinya. Panjang keseluruhan 1.900 mm. Itu artinya lebih pendek dibanding Skywave yang 1.935 mm, meski lebih panjang dibanding Spin 125 yang 1.859 mm (lebih jelasnya, lihat perbandingan dimensinya).

Walau tidak segambot Skywave 125, tapi soal bentuk modern aerodinamisnya cukup menyerupai. Bahkan secara keseluruhan, unsur sporty dan dinamis justru lebih kental. Dilihat dari bentuk keseluruhan cover depan, lampu, sampai buritan yang mirip moge sport masa kini.

1808skydrive-gt-05.jpgBahkan, bentuk cover setang dibuat lebih ramping. Master rem sampai nongol cuma ketutup sebagian. Meski awalnya sedikit terasa aneh, tapi setelah lama berkenalan jadi terbiasa.

Tengok juga bagian dek atau pijakan kaki tengah. Ketimbang Spin 125, posisi kaki di Skydrive jauh lebih leluasa. Karena lekukan bodi depan lebih memungkinkan dengkul maju. Kan dibuat kayak Skywave 125 yang melengkung di bagian tengah dan maju ke depan.

Mungkin karena Skydrive juga mengapalikasi kompartemen macam di Skywave 125 ya? Tapi bagusnya, dek di Skydrive tidak seperti Skywave 125. Lebih mirip Spin 125! Jadi, gak ada sekat antara kaki kanan dan kiri. Posisi kaki juga lebih leluasa. Sementara untuk barang bawaan, maaf kalau cara ini tidak dianjurkan secara safety riding.
1809skydrive-gt-06.jpg
Soal desain pijakan kaki boncenger, lebih menyerupai Spin 125. Begitu juga sok tunggal di belakang dan tidak ada filter udara yang ada di atas CVT. Efeknya, ban gambot juga mudah diterapkan. Lha wong bawaan standar aja sudah lebih besar dari Spin 125 atau Skywave 125.

Ban belakang, punya ukuran 90/90-14. Sementara ban depan 80/90-14. Kalaupun mau digedein lagi, lebih mudah diakalin dibanding Skywave 125? Sayangnya, meski bodi sudah mendekati Skywave 125, tapi bagasi tetap enggak seluas Skywave 125.

Tapi paling tidak, bentuk footstep boncenger membawa ide baru. Konsep seperti ini tidak ditemui pada dua skubek pendahulunya. Secara desain keseluruhan, Skydrive cukup menawan dan layak jadi pilihan?

RIDING IMPRESSION

Makin menarik lagi, bicara soal performa handling yang ditawarkan. Skydrive juga tidak kalah lincah diajak selap-selip di antara deretan handicap di depan mata. Karakter ini, gak jauh beda dengan lincahnya Spin 125.

Gitu juga ketika diajak manuver di tikungan dengan sudut parabola. Skydrive terasa mantap dan tak ada gelaja limbung. Karakter satu ini, lebih mirip dengan Skywave yang ditopang dua sok belakang. Yap, kanan dan kiri. Enggak sebelah kiri doang.

Selain lebih stabil di tikungan, akselerasi bawah dan atas Skydrive terasa mantap. Pelintiran grip gas yang semakin dalam, tetap mengeluarkan power responsif. Sama halnya dengan Skywave 125 yang punya respon lebih mantap ketimbang Spin 125.

Kelebihan lain yang enggak dimiliki Spin 125 di Skydrive ini, yaitu pengereman. Rem belakang terasa lebih menggigit pakem ketika tuas rem ditarik sejadinya. So, ketika tuas di rem depan juga ditarik, motor pun berhenti sempurna di titik yang diinginkan.

DIMENSI SKYWAVE 125

Panjang keseluruhan : 1.935 mm
Lebar keseluruhan : 670 mm
Tinggi keseluruhan : 1.070 mm
Jarak antara as roda : 1.285 mm
Jarak mesin ke tanah : 140 mm
Berat : 113 kg

DIMENSI SPIN 125

Panjang keseluruhan : 1.859 mm
Lebar keseluruhan : 654 mm
Tinggi keseluruhan : 1.046 mm
Jarak antara as roda : 1.244 mm
Jarak mesin ke tanah : 145 mm
Berat : 93 kg

DIMENSI SKYDRIVE DYNAMATIC


Panjang keseluruhan : 1.900 mm
Lebar keseluruhan : 655 mm
Tinggi keseluruhan : 1.050 mm
Jarak antara as roda : 1.265 mm
Jarak terendah dari tanah : 155 mm
Ketinggian tempat duduk : 760 mm
Berat : 108 kg

Suzuki New Satria F-150


Didukung Indikator Pengaman Mesin
565first-ride-new-satria-f-end.jpgDi ajang JMS 2008, Suzuki New Satria F-150 resmi diperkenalkan, Sabtu (6/12) kemarin. Memang dilihat sekilas, secara keseluruhan tak banyak ubahan di sektor sasis maupun mesin yang mengusung kapasitas silinder 147,3 cc DOHC dengan 6 percepatan.

Namun dilihat lebih detail, terjadi ubahan paling 566first-ride-new-satria-f---e.jpgsignifikan pada model batok lampu, berikut panel spidometer. Desain lampu depan lebar menjadi satu dengan sein, serta screen shield mengikuti bentuk lampu. Menurut Edi Darmawan, manager marketing, PT Indomobil Niaga International (IMNI), tampilan ini menegaskan aura hyper-underbone New Satria F-150 yang makin aerodinamis.

568first-ride-new-satria-fendr.jpg“Apalagi didukung desain stripping tribal dengan warna berani, menjadikan tunggangan ini lebih sporty dan sangat serasi bagi kalangan muda,” lanjut pria berkantor di Wisma Indomobil di Jl. M.T. Haryono, Jakarta Timur.

Masih pada batok lampu, PT IMNI menambahkan indikator shift-light di atas panel odometer. Dipercaya, komponen baru di motor seharga Rp 17,8 jeti OTR itu untuk mengamankan mesin dari kerusakan fatal. Selain itu, menghindari kehilangan tenaga akibat over-rev. Makanya begitu lampu putih shift-light nyala di rpm tertentu, pengendara wajib pindah gigi.

Selain di bagian lampu, New Satria F-150 menyodorkan tampilan baru di knalpot. Pelepas gas buang punya moncong Tri-oval Exhaust System yang menyelubungi bagian moncongnya. Penambahan ini percaya guna mempertajam kesan sporty tunggangan beken disebut hyper-underbone.567first-ride-new-satria-f--en.jpg

Penasaran akan perbedaan tadi, di kesempatan yang sama Em-Plus coba merasakan sensasi yang ditawarkan. Meski lokasi buat ngejajal bisa dibilang terlalu sempit jika ingin lakukan manuver, toh uji coba ini tetep menarik. Toh pengetesan detail hanya pada pengunaan piranti yang diubah. Seperti cahaya lampu, fokusnya dan bagian bohlam yang bekerja.

Lanjut kepada fungsi shift-light. Setelah menikmati beragam rintangan yang tersedia, di trek lurus Em-Plus coba memastikan fungsi lampu indikator rpm. Alhasil bila rpm mesin melebihi batas yang ditentukan, maka lampu akan menyala, tanda posisi persneling harus segera dipindah.

First Ride Suzuki Titan 115


Umbar Torsi Berlebih

4677suzi-titan-dvd-1.jpg"Kami sangat bangga dan terima kasih karena ditunjuk sebagai tempat pertama yang disinggahi Suzuki Titan 115,” ungkap Ronny Kurniawan, Direksi Medan Jaya, selaku salah satu main-dealer Suzuki di Jogja.

Ungkapan itu sekaligus menandai hadirnya varian bebek baru dari PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), selaku penjual Suzuki di Indonesia. Lewat Suzuki Titan 115, kini segmen pasar bebek low-end 110 cc pabrikan berlambang ‘S’ itu akan beralih. Dari Suzuki New Smash, kini menjadi Suzuki Titan 115.

“Kami coba tawarkan produk baru ke konsumen. Memang, beberapa tahun ini Smash belum dilakukan penyegaran,” ungkap Setiawan Surya, Direktur Marketing 2W SIS. Ya, Suzuki Smash sendiri sudah beranjak 8 tahun usianya. Dan, terakhir dilakukan penyegaran di 2006 lalu.4678suzi-titan-dvd-2.jpg

“Semoga dengan hadirnya Titan, bisa membawa Suzuki kembali ke masa jayanya,” tambah Setiawan yang ramah. Apalagi, Titan memang mengusung ubahan yang cukup drastis ketimbang versi Smash sebelumnya.

Meski masih mengusung nama depan Smash, tapi secara spek engine semua yang diaplikasi Titan tergolong baru. Berbeda dengan Smash atau New Smash. Itu Em-Plus rasakan ketika melakukan first ride pacuan yang punya isi silinder 113 cc itu di Jogja. Tentunya, atas undangan PT SIS yang bertajuk media gathering.

Dengan Suzuki Titan 115 tipe SR, Em-Plus coba lakukan first ride dengan berkeliling Kota Gudeg itu. Seperti yang disebutkan di atas, menunggangi varian yang digolongkan sebagai bebek 115 cc itu terasa beda ketimbang menunggangi New Smash.

Hal ini, bisa disebabkan dari konfigurasi stroke dan bore yang diaplikasi Titan. Jika varian New Smash hanya mengusung piston 53,5 mm dan langkah 48,8 mm, kini Titan hadir dengan diameter piston 51 mm dan stroke 55,2 mm.

4679suzi-titan-dvd-3.jpgPerbedaan ini, sangat terasa melalui torsi awal yang ditawarkan. Dengan stroke yang lebih panjang, tenaga bawah yang dihasilkan jadi lebih menghentak. Sehingga, untuk memulai perjalanan tak perlu membuat putaran mesin berkitir lebih tinggi.

Tenaga yang ditawarkan ini berlaku untuk semua gigi. Torsi yang dimiliki terasa cukup besar. Tentunya dari kelebihan ini, bisa mempengaruhi pada tingkat konsumsi bensin. Ya, dong! Kan, dengan memutar grip gas sepertiga putaran saja motor sudah bisa berjalan. Sehingga, bukaan skep dari karburator Mikuni VM18SH yang diaplikasi tidak perlu membuka terlalu tinggi. Bahan bakar pun, jadi tak perlu banyak menyembur ke ruang bakar.

“Ini salah satu kelebihan dari banyak kelebihan yang coba Suzuki tawarkan. Dengan desain baru, Titan juga sudah diyakini minim getaran dan noise. Juga, responsif di putaran bawah dan menengah,” pasti Joko Utomo, Deputy GM Marketing 2W SIS.

Selain dari power dan torsi berlebih yang dimiliki, sepertinya Titan tetap mewariskan apa yang dimiliki varian sebelumnya. Handling yang dimiliki, tergolong gesit. Untuk bermanuver dengan Titan di tengah padatnya kota Jogja, tergolong mudah.

Tetapi, saking mudahnya setang jadi seperti enteng sih. Mungkin jika komstir lebih dikencangkan lagi, akan makin mantap buat bermanuver. Kelincahan yang diaplikasi, tidak terlepas dari jarak sumbu as roda yang dimiliki.4680suzi-titan-dvd-4.jpg

Jika Smash punya jarak sumbu roda 1.240 mm, maka Titan yang juga kepanjangan dari ‘Tiada Tanding’ ini memiliki wheelbase 1.225 mm. Meski lebih pendek sedikit, tentu tetap akan pengaruhi handling dong!

Oh ya! Secara disengaja, Em-Plus coba sedikit bermain dengan gigi persneling ketika berhenti di lampu merah. Dari gigi 4 yang terakhir dipakai, untuk kembali ke posisi netral dicoba dengan menginjak tuas ke depan. Eh, taunya tetap bisa. Artinya, memiliki tipe rotari lho.

Bicara soal kelebihan lain yang diaplikasi Titan 115 ketimbang Smash, tentu masih ada lagi. Yaitu, teknologi lebih di sektor karburator. Makanya, boleh dibilang, Titan merupakan penyempurnaan dari Shogun dan Smash.
“Titan memiliki teknologi Throttle Position Sensor di karburator. Ini membuat pencampuran bahan bakar dan udara semakin sempurna. Ini juga yang mempengaruhi konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit,” tutur Hariadi, 2W Marketing-Service Area Respresntative Group Leader Assistant Manager SIS.

Memang! Dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam, Em-Plus menjajal Titan untuk menempuh jarak 22,1 km. Konsumsi bensin yang terpakai, hanya 350 cc.

Itu artinya, Titan sanggup menghabiskan 1 liter Premium untuk jarak 65 km. Tentunya, dengan kondisi jalan yang stop and go. Misal, berhenti di lampu merah layaknya berkendara normal.

Bicara soal harga, sayang seribu sayang! Sebab, seperti yang ditegaskan oleh Joko tadi. Kesempatan kali ini memang bukan untuk launching produk. Tapi, baru sebatas memperkenalkan Suzuki Titan 115 kepada media.

“Kita ada tiga model yang ditawarkan. Titan 115, Titan 115R dan 115SR. Harga terendah bermain di kisaran Rp 10,5 jutaan. Yang jelas, di bawah kompetitor kita lah,” buka pria ramah dan dandy itu sembari bilang bahwa Titan 115 bakal mengaspal resmi pada 25 Mei.
buktikan............